https://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/issue/feedFASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sains2026-07-20T15:12:45+00:00Abdul Basithabdulbasith@unugiri.ac.idOpen Journal Systems<p><strong>Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh</strong> <br />Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, segala puji kami panjatkan ke hadirat Allah SWT segala Rahmat dan Inayah-Nya. </p> <p><strong>FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sains </strong>Prodi Farmasi Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri yang terdiri dari berbagai hasil pemikiran, pengkajian dan penelitian dibidang ilmu farmasi, kesehatan, dan sains terbit dua kali setahun pada Bulan Juli dan November. </p> <p>Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri merupakan salah satu perguruan tinggi yang memiliki kewajiban untuk menerbitkan jurnal sebagai media publikasi ilmiah dikalangan akademisi yang dihasilkan berdasarkan penelitian literer, maupun lapangan merasa perlu menyumbangkan ide, gagasan, pemikiran dalam bentuk tulisan untuk meningkatkan mutu keilmuan yang disebarluaskan kepada para akademisi khususnya dan masyarakat pada umumnya.</p> <ul> <li><strong>Judul Jurnal</strong> : FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sains</li> <li><strong>P-ISSN </strong>: <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20230718170078603">3025-1508</a></li> <li><strong>E-ISSN </strong>: <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20230221511308750">2987-9841</a></li> <li><strong>AKREDITASI </strong> : <a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/16477">SINTA 3</a> </li> <li><strong>Terbitan </strong>: Satu Tahun 2 kali (Juli and November)</li> <li><strong>Pemimpin Redaksi </strong>: <a href="https://scholar.google.com/citations?user=SANFBSsAAAAJ&hl=id">Abdul Basith</a></li> <li><strong>Penerbit</strong> : Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri, Jawa Timur, Indonesia</li> <li><strong><strong>Fokus dan Ruang Lingkup : </strong></strong> <ol> <li>Farmasi Umum dan Apoteker</li> <li>Farmasi Klinis</li> <li>Farmasi Komunitas</li> <li>Farmasi Industri Herbal Tradisional </li> <li>Sains dan, Ilmu Pengetahuan Lain yang Relevan di Kesehatan.</li> </ol> </li> </ul>https://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6473Aplikasi Surfaktan Alami berbasis Tumbuhan dalam Industri Kosmetik2026-05-19T04:32:09+00:00Sharon Susantosharon.susanto@atmajaya.ac.idYulius Evan Christianyulius.christian@atmajaya.ac.idPutriana Rachmawatiputriana.rachmawati@atmajaya.ac.idPatrycia SetiawanPATRYCI.202306020049@STUDENT.ATMAJAYA.AC.ID<p>Latar belakang: Surfaktan merupakan komponen penting dalam formulasi<br />kosmetik. Namun, penggunaan surfaktan sintetis yang masif mulai menimbulkan<br />masalah bagi kesehatan dan lingkungan. Kesadaran masyarakat akan keberlanjutan<br />juga turut mengakibatkan pergeseran penggunaan bahan alam. Maka dari itu,<br />surfaktan alami berbasis tumbuhan menjadi alternatif yang lebih aman dan ramah<br />lingkungan. Tujuan: Mengkaji perkembangan, karakteristik, dan aplikasi surfaktan<br />alami berbasis tumbuhan dalam industri kosmetik. Metode: Penelitian dilakukan<br />melalui systematic literature review terhadap artikel tahun 2016–2026 dari database<br />Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, dan SINTA. Hasil:<br />Saponin dan fosfolipid (lesitin) merupakan surfaktan utama dengan kemampuan<br />menurunkan tegangan permukaan, meningkatkan emulsifikasi, dan menghasilkan<br />busa stabil yang setara dengan surfaktan sintetis. Surfaktan ini telah banyak<br />digunakan dalam berbagai sediaan kosmetik meliputi shampo, sabun, krim, atau<br />pun emulsi. Pemanfaatan surfaktan alami dalam berbagai novel delivery system<br />seperti liposom atau pun nanoemulsi memberikan peluang yang besar dalam<br />perkembangannya. Simpulan dan saran: Surfaktan alami berbasis tumbuhan<br />berpotensi sebagai alternatif berkelanjutan dalam kosmetik, dengan tantangan pada<br />konsistensi bahan baku dan stabilitas formulasi.</p>2026-07-19T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6576Biosintesis Nanopartikel Perak dengan Bantuan Bioreduktor Alami Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) dan Uji Efektivitasnya sebagai Antibakteri2026-05-22T02:43:01+00:00Nadlifatun Nisanadlifatunnisa@gmail.comIftinan Mega Irfaniiftinanmega4816@gmail.comRisma Ayu Fepbiantirismaayufepbianti02@gmail.comSilvia Zety Fauziyatisilviazety07@gmail.comDjati Wulan Kusumodjatiwulank@umla.ac.id<p>Latar belakang: Nanopartikel merupakan material berukuran 1-100 nm yang<br />berkembang pesat dalam bidang kesehatan karena sifat fisikokimia dan aktivitas<br />biologinya. Nanopartikel perak (NPAg) memiliki aktivitas antibakteri tinggi,<br />namun metode sintesis konvensional cenderung mahal dan kurang ramah<br />lingkungan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mensintesis NPAg menggunakan<br />ekstrak herba patikan kebo serta mengevaluasi karakteristik dan aktivitas<br />antibakterinya. Metode: Penelitian eksperimental dilakukan melalui sintesis<br />NPAg pada konsentrasi 0,5 mM, 0,75 mM, dan 1 mM. Karakterisasi menggunakan<br />spektrofotometer UV-Vis dan Particle Size Analyzer (PSA). Uji antibakteri<br />dilakukan dengan metode difusi cakram terhadap Staphylococcus aureus dengan<br />tiga replikasi. Hasil: Terbentuk NPAg dengan puncak serapan 443-446 nm.<br />Ukuran partikel berturut-turut 29,93 nm; 34,00 nm; dan 49,02 nm dengan PDI <0,7<br />(homogen). Zona hambat rata-rata masing-masing 8,13 mm; 9,16 mm; dan 9,60<br />mm yang tergolong dalam kategori sedang. Simpulan dan saran: Ekstrak patikan<br />kebo efektif sebagai agen reduktor dalam sintesis NPAg berpotensi sebagai<br />antibakteri. Diperlukan optimasi sintesis dan uji lanjutan untuk meningkatkan<br />efektivitas serta memastikan keamanan penggunaannya.</p>2026-07-19T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6579Penentuan Kadar Tanin pada Ekstrak Etanol Daun Singkong (Manihot utilissima Pohl) Berdasarkan Perbedaan Metode Ekstraksi2026-05-18T14:03:37+00:00Ira Oktaviaoktavia28.kim@gmail.comRosa Juwita Hesturinimbakrosa@gmail.comYuni Susantiyunisusanti@unmuhjember.ac.idArdiah Rizky Belliasarioktavia28.kim@gmail.comShania Chrisnatasha Putrioktavia28.kim@gmail.com<p>Latar belakang: Tanin ialah salah satu metabolit sekunder yang memiliki banyak<br />manfaat. Tanin memiliki efek farmakologis seperti aktivitas antelmintik, antivirus, anti-oksidan, anti-bakteri dan astringen. Tanin juga diaplikasikan di bidang<br />lingkungan sebagai koagulan senyawa anorganik garam aluminium, besi klorida<br />dan aluminium sulfat agar tidak mencemari lingkungan. Di bidang industri<br />pangan, tanin digunakan sebagai matriks pelapis kemasan untuk memperpanjang<br />masa simpan pangan. Banyaknya aplikasi di berbagai bidang, tanin menjadi<br />menarik untuk diteliti. Tanin pada tanaman ditemukan pada bagian buah, daun,<br />batang dan kulit. Salah satu tanaman yang mengandung tanin ialah daun singkong<br />(Manihot utilissima Pohl). Tujuan: menentukan kadar tanin pada ekstrak etanol<br />96% daun singkong. yang dipengaruhi oleh perbedaan metode ekstraksi maserasi<br />dan refluks. Metode: ekstraksi metode maserasi dan refluks, uji kualitatif tanin,<br />uji kuantitatif dengan spektrofotometri UV-Vis. Hasil: Uji kualitatif sampel<br />menunjukkan positif terhadap tanin dengan FeCl3 menghasilkan warna hitam<br />kehijauan dan dengan gelatin menghasilkan endapan putih. Hasil uji kuantitatif<br />menunjukkan panjang gelombang maksimum standar tanin 770nm dengan kurva<br />baku y= 0,0074x + 0,1113 dan R2 = 0,98. Hasil penentuan kadar tanin pada<br />sampel metode maserasi sebesar 0,52 mg/g dan refluks sebesar 1,17 mg/g.<br />Simpulan dan saran: Kadar tanin pada ekstrak etanol daun singkong metode<br />refluks lebih tinggi dibandingkan maserasi.</p>2026-07-19T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6709Studi Pengaruh Berbagai Parameter Proses Kombinasi UAE-EAE terhadap Kadar Asam Klorogenat Ekstrak Kulit Buah Kopi Arabika (Coffea arabica L.)2026-06-08T15:38:04+00:00selda vira khairunnisaseldavira2005@gmail.comSiti Marwah Lestarisitimarwahlestari@gmail.comTiskha Salsabillasitimarwahlestari@gmail.comNur Fadilahsitimarwahlestari@gmail.com<p>Latar belakang: Kulit buah kopi arabika (Coffea arabica L.) merupakan limbah<br />hasil pengolahan kopi yang berpotensi dimanfaatkan karena mengandung<br />senyawa bioaktif berupa asam klorogenat (CGA). Tujuan: Menentukan faktor<br />ekstraksi yang paling berpengaruh terhadap kadar asam klorogenat dari kulit buah<br />kopi arabika. Metode: Penelitian dilakukan menggunakan metode percobaan satu<br />faktor dan data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dengan tingkat<br />signifikansi (p < 0,05). Hasil: kombinasi UAE–EAE menghasilkan rendemen<br />ekstrak sebesar 40,80%, parameter rasio pelarut (1:20), waktu ultrasonik (20<br />menit), pH (4,5), suhu enzimolisis (70°C), dan waktu enzimolisis (1,5 jam)<br />berpengaruh signifikan terhadap kadar asam klorogenat, sedangkan suhu<br />ultrasonik (45°C) dan konsentrasi enzim selulase (5 mg/g) tidak berpengaruh<br />signifikan (p > 0,05). Simpulan dan saran: kombinasi UAE-EAE mampu<br />meningkatkan efisiensi ekstraksi senyawa bioaktif dari matriks lignoselulosa kulit<br />buah kopi arabika. Penelitian selanjutnya disarankan melakukan optimasi<br />multivariat.</p>2026-07-19T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6824Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Konsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri di SMK Negeri 8 Muara Dua Kota Lhokseumawe2026-06-11T14:49:18+00:00Mawadhah Yusranyusranmawaddah@gmail.comZulfikarfikarfkm@gmail.com<p>Latar Belakang: Remaja putri merupakan kelompok rentan mengalami anemia<br />defisiensi besi akibat kehilangan darah selama menstruasi dan kurangnya asupan<br />zat besi. Konsumsi tablet tambah darah (TTD) menjadi salah satu upaya<br />pencegahan anemia pada remaja putri. Pengetahuan dan sikap diduga<br />berhubungan dengan konsumsi TTD pada remaja. Tujuan: Penelitian ini<br />bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan konsumsi<br />tablet tambah darah pada remaja putri di SMK Negeri 8 Muara Dua Kota<br />Lhokseumawe Tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik<br />dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas<br />X–XII sebanyak 224 orang. Sampel berjumlah 69 responden yang dipilih<br />menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui<br />penyebaran kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dengan<br />tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki<br />pengetahuan baik (59,4%), sikap positif (50,7%), dan mengonsumsi tablet tambah<br />darah (52,2%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara pengetahuan<br />(p < 0,001) dan sikap (p < 0,001) dengan konsumsi tablet tambah darah.<br />Kesimpulan: Pengetahuan dan sikap berhubungan dengan konsumsi tablet<br />tambah darah pada remaja putri.</p>2026-07-19T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6942Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Swamedikasi tentang Acne Vulgaris pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta2026-06-22T07:37:52+00:00Dyani Primasari Sukamdidyani.primasaris@umy.ac.idNurulfaridah Laelatunadhifahlaelatunadhifah@gmail.comPramitha Esha Nirmala Dewipramithaesha@umy.ac.idNurul Maziyyahmaziyyahnurul@umy.ac.idTriana Arum Kusumaningtyastrianaarumk@gmail.com<p><em>Acne vulgaris</em> menjadi penyakit kulit yang sering terjadi dan ditangani melalui swamedikasi. Tingginya angka swamedikasi di Indonesia menunjukkan pentingnya memahami faktor yang memengaruhi perilaku tersebut, termasuk tingkat pengetahuan tentang <em>Acne vulgaris</em>. <strong>Tujuan: </strong>Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan mengenai <em>Acne vulgaris</em> dengan perilaku swamedikasi pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.<strong> Metode:</strong> Penelitian observasional deskriptif dengan desain <em>cross-sectional</em> dilakukan pada sampel yang dipilih secara <em>non-probability</em> sampling. Instrumen penelitian dilakukan menggunakan kuesioner yang dilakukan uji validitas dan reliabilitas.<strong> Hasil:</strong> Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang (69%) dan perilaku swamedikasi yang kurang (71%). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang <em>Acne vulgaris</em> dan perilaku swamedikasi (p = 0,248), dengan nilai korelasi yang sangat rendah (r = 0,117). <strong>Simpulan dan saran:</strong> Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang <em>Acne vulgaris</em> dan perilaku swamedikasi pada mahasiswa. Sehingga, kajian faktor lain yang memengaruhi perilaku swamedikasi dengan jumlah responden yang lebih besar perlu dilakukan lebih lanjut.</p>2026-07-19T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6642Penerapan Indikator WHO dalam Analisis Kepatuhan Pasien dan Home Care Penggunaan Antihipertensi secara Rasional di Apotek Swasta X2026-07-13T01:06:37+00:00Titi Agni Hutahaentiti.agni@gmail.comRia Indah Kusuma Pitaloka Indah Kusuma Pitalokaria@unugiri.ac.idAtika Nirmala Nirmalatiti.agni@unugiri.ac.idGita Diana Patrisia Diana Patrisiatiti.agni@unugiri.ac.idUmi Muslihatun Nikmahtiti.agni@unugiri.ac.id<p>Latar belakang: Hipertensi sering disebut sebagai penyakit pembunuh<br />tersembunyi karena penyakit ini biasanya tidak memberikan gejala yang spesifik<br />pada penderitanya dan sangat berbahaya. Kepatuhan dalam mengkonsumsi obat<br />hipertensi menjadi masalah utama bagi pasien sehingga banyak pasien yang<br />mengalami serangan mendadak ketika tekanan darahnya naik. Tujuan :Pemberian<br />perawatan di rumah dengan konseling dilaporkan dapat memberikan pemahaman<br />yang lebih baik kepada pasien mengenai tingkat kepatuhan pasien home care dalam<br />mengkonsumsi obat anti hipertensi dan dapat meningkatkan kualitas hidup.<br />Metode: metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan<br />menggunakan kuesioner tingkat kepatuhan dan kuesioner factor-faktor yang<br />mempengaruhi tingkat kepatuhan, data dianalisis dengan uji korelasi rank<br />spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57,6% responden memiliki<br />tingkat kepatuhan yang memiliki hubungan yaitu jenis kelamin (p=0,001), tingkat<br />pendidikan (p=0,000), dukungan keluarga (p=0,001), 4 faktor tingkat kepatuhan<br />yang tidak memiliki hubungan yaitu status pekerjaan (p=0,189), lama menderita<br />hipertensi (p=0,805), keikutsertaan asuransi kesehatan (p=0,065).Saran Penelitian<br />Apotek diharapkan dapat meningkatkan peran pelayanan kefarmasian yang<br />berorientasi pada pasien (patient-centered care) melalui pelaksanaan home care<br />secara berkala</p>2026-07-19T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6924Perbedaan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Swamedikasi antara Mahasiswa Kedokteran dan Non-Kedokteran di Universitas Warmadewa2026-06-22T04:49:50+00:00Ryantara Madraryantaramadra@gmail.comPande Ayu Naya Kasih Permatanandanayakasih@gmail.comDewa Ayu Putu Ratna Juwitadap.ratnajuwita@gmail.comSri Agung Aryastuti Aryastutiaryastuti.sr@gmail.comPutu Nita Cahyawati Cahyawatinitacahyawati@gmail.com<p>Latar Belakang: Swamedikasi merupakan praktik penggunaan obat secara mandiri<br />untuk mengatasi keluhan kesehatan ringan tanpa resep dokter. Kemudahan akses<br />informasi kesehatan dan obat-obatan telah meningkatkan praktik swamedikasi,<br />terutama di kalangan mahasiswa. Perbedaan latar belakang pendidikan diduga<br />memengaruhi pengetahuan, sikap, dan perilaku mahasiswa terhadap swamedikasi.<br />Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengetahuan, sikap, dan perilaku<br />swamedikasi antara mahasiswa kedokteran dan non-kedokteran Universitas<br />Warmadewa. Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan crosssectional ini melibatkan 400 responden yang terdiri atas 200 mahasiswa kedokteran<br />dan 200 mahasiswa non-kedokteran. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner<br />yang telah valid dan reliabel. Analisis perbedaan pengetahuan dan perilaku<br />dilakukan menggunakan uji Chi-square, sedangkan sikap dianalisis menggunakan<br />uji Mann–Whitney. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna pada pengetahuan, sikap,<br />dan perilaku swamedikasi antara mahasiswa kedokteran dan non-kedokteran<br />(p<0,001). Mahasiswa kedokteran menunjukkan tingkat pengetahuan, sikap, dan<br />perilaku yang lebih baik dibandingkan mahasiswa non-kedokteran. Kesimpulan:<br />Mahasiswa kedokteran memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku swamedikasi<br />yang lebih baik dibandingkan mahasiswa non-kedokteran. Edukasi mengenai<br />penggunaan obat yang rasional perlu ditingkatkan pada mahasiswa non-kesehatan.</p>2026-07-19T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6927Evaluasi Karakteristik Fisik dan Stabilitas Emulsi Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) pada Berbagai Konsentrasi Ekstrak2026-06-22T14:24:12+00:00Vella Lailli Damarwativellalailli@umy.ac.idRosela Wativellalailli@umy.ac.idRisa Umari Yuli Aliviyantivellalailli@umy.ac.idDyani Primasari Sukamdivellalailli@umy.ac.id<p>Latar Belakang: Daun kersen (Muntingia calabura L.) diketahui mengandung<br />senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Namun,<br />senyawa flavonoid memiliki stabilitas yang relatif rendah dan mudah mengalami<br />degradasi selama penyimpanan, sehingga diperlukan pengembangan dalam bentuk<br />sediaan, salah satunya emulsi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi<br />karakteristik fisik dan stabilitas sediaan emulsi yang mengandung ekstrak etanol<br />daun kersen. Metode: Ekstrak daun kersen diperoleh melalui metode maserasi<br />menggunakan etanol 96% sebagai pelarut. Ekstrak kemudian diformulasikan ke<br />dalam sediaan emulsi dengan tiga variasi konsentrasi, yaitu F1 (0,1%), F2 (0,2%),<br />dan F3 (0,3% b/v). Karakteristik fisik sediaan dievaluasi melalui uji organoleptik,<br />homogenitas, viskositas, pH, daya lekat, dan tipe emulsi. Stabilitas fisik dievaluasi<br />menggunakan uji freeze-thaw dan sentrifugasi. Hasil: Seluruh formula<br />menghasilkan emulsi homogen, berwarna kuning hingga kuning pekat, beraroma<br />khas, bertekstur agak kental, dan bertipe minyak dalam air (M/A). Nilai pH berkisar<br />5,53–5,63 dan viskositas 5,32–7,96 cPs, dengan daya lekat <1 detik. Hasil uji<br />freeze-thaw dan sentrifugasi menunjukkan tidak terjadi pemisahan fase maupun<br />pembentukan partikel kasar. Setelah uji freeze-thaw, emulsi berubah menjadi putih<br />keruh dengan pH 5,55–5,70 dan viskositas 5,92–8,06 cPs. Kesimpulan: Emulsi<br />ekstrak daun kersen pada ketiga variasi konsentrasi memiliki karakteristik fisik dan<br />stabilitas yang baik. </p>2026-07-19T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6852Perbedaan Biaya Clopidogrel Berdasarkan Karakteristik Pasien Stroke Iskemik di RSUD Kabupaten Kediri2026-07-13T00:59:12+00:00Elsa Mahardika Putrielsamahardika@unik-kediri.ac.idAnis Akhwan Dhafinanisdhafin135@gmail.comLaily Vitria Adhitamaelsamahardika@unik-kediri.ac.idLuh Santhi Utami Wiryani elsamahardika@unik-kediri.ac.id<p>Latar belakang: Clopidogrel merupakan antiplatelet yang digunakan pada pasien<br />stroke iskemik, tetapi biaya penggunaannya dapat bervariasi menurut karakteristik<br />pasien dan lama rawat inap. Tujuan: Menganalisis perbedaan biaya clopidogrel<br />berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia serta hubungan lama rawat inap<br />dengan biaya clopidogrel pada pasien stroke iskemik di RSUD Kabupaten Kediri<br />tahun 2024. Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan<br />retrospektif menggunakan data rekam medis dan instalasi farmasi. Sampel terdiri<br />atas 94 pasien yang dipilih dengan total sampling. Perbedaan biaya berdasarkan<br />jenis kelamin dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney, berdasarkan kelompok<br />usia menggunakan uji Kruskal–Wallis, dan hubungan lama rawat inap dengan biaya<br />menggunakan korelasi Spearman. Hasil: Total biaya clopidogrel sebesar<br />Rp882.788, dengan rata-rata Rp9.391 dan median Rp7.475 per pasien. Tidak<br />terdapat perbedaan biaya berdasarkan jenis kelamin (p=0,356) maupun kelompok<br />usia (p=0,252). Lama rawat inap berkorelasi positif lemah dengan biaya clopidogrel<br />(r_s=0,228; p=0,027). Simpulan: Jenis kelamin dan usia tidak menunjukkan<br />perbedaan biaya yang bermakna, sedangkan lama rawat inap berhubungan positif<br />dengan biaya clopidogrel. Temuan ini dapat mendukung perencanaan kebutuhan<br />dan pengendalian biaya clopidogrel di rumah sakit.</p>2026-07-19T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6501Evaluasi Penggunaan Antibiotik secara Kuantitatif pada Pasien di Ruang Intensive Care Unit di Indonesia : Tinjauan Sistematis2026-05-19T10:17:22+00:00Dwiky Adolof Ludji Nguruadoludjinguru@gmail.comAnna Wahyuni Widayantiwahyuni_apt@ugm.ac.idTri Murti Andayanitrimurtia@ugm.ac.id<p>Latar belakang: Penggunaan antibiotik yang tidak terkendali di ruang Intensive<br />Care Unit (ICU) merupakan pendorong utama resistensi antimikroba. Metode<br />Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD) dan Drug<br />Utilization 90% (DU 90%) yang direkomendasikan WHO merupakan pendekatan<br />kuantitatif yang relevan untuk mengevaluasi pola konsumsi antibiotik, namun<br />penerapannya di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Tinjauan sistematis ini<br />bertujuan mengevaluasi pola penggunaan antibiotik pada pasien ICU di Indonesia<br />menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90%. Metode:Penelitian yang dilakukan<br />mengikuti panduan PRISMA dengan penelusuran literatur pada empat basis data<br />yaitu Google Scholar, PubMed, Sage Journal, dan ScienceDirect. Dari 167 artikel<br />yang teridentifikasi, 10 artikel memenuhi kriteria inklusi berupa studi crosssectional di rumah sakit Indonesia yang terbit antara 2015–2025. Hasil: Total<br />konsumsi antibiotik bervariasi antara 63,58 hingga 325,5 DDD/100 hari rawat.<br />Ceftriaxone mencatat nilai DDD tertinggi hingga 76,13 DDD/100 hari rawat.<br />Ceftriaxone dan Levofloxacin masuk dalam kategori Watch dan Meropenem dalam<br />kategori Reserve mendominasi segmen DU 90% dalam kategori klasifikasi WHO<br />AWaRe. Simpulan dan saran: Rumah sakit perlu melaksanakan evaluasi berkala<br />menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90% sebagai dasar penguatan<br />Antimicrobial Stewardship Program (ASP) guna mendukung penggunaan<br />antibiotik yang lebih rasional.</p>2026-07-19T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6596Pengaruh Edukasi Swamedikasi melalui Aplikasi Digital terhadap Pengetahuan Kader Posyandu di Kelurahan Kadipiro kota Surakarta2026-05-18T14:16:16+00:00Khotimatul Khusnakhotimatul.usahid@gmail.comRisma Sakti Pambudirismasaktip@gmail.comSiti Annisa Alfia Lailialfiasiti34@gmail.comSindi Wahyu Yulianasindiwahyu66@gmail.com<p>Latar belakang: Pemanfaatan teknologi digital di bidang kesehatan berkontribusi<br />positif terhadap peningkatan edukasi pasien, serta mendorong penerapan<br />ketrampilan dan perilaku dalam terapi berbasis perubahan gaya hidup. Kader<br />posyandu merupakan individu yang dipercaya oleh komunitas dan berperan dalam<br />edukasi, promosi kesehatan, serta pemantauan kondisi kesehatan masyarakat.<br />Keterbatasan pengetahuan meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap paparan<br />informasi obat, yang berpotensi memicu praktik pengobatan yang tidak rasional<br />Tujuan: untuk mengetahui apakah edukasi swamedikasi melalui aplikasi digital<br />berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan kader posyandu Kelurahan Kadipiro<br />Kota Surakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi experimental<br />dengan desain penelitian one group pretest and posttest. Hasil: Hasil penelitian<br />menunjukkan terdapat peningkatan tingkat pengetahuan responden, dimana<br />mayoritas responden berada pada kategori cukup sebelum intervensi (52%), dan<br />meningkat mayoritas kategori baik setelah intervensi (66%). Simpulan dan saran:<br />Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian edukasi swamedikasi melalui aplikasi<br />digital berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan kader posyandu Kelurahan<br />Kadipiro Kota Surakarta. Saran penelitian selanjutnya, dilakukan analisis tingkat<br />pengetahuan dan perilaku swamedikasi pada peserta posyandu.</p>2026-07-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6636Profil Metabolit Sekunder Daun Murbei (Morus alba L.) Berdasarkan Pelarut Ekstraksi Metode LC–MS/MS 2026-06-02T02:31:43+00:00Ameliya Gustinaameliyagustina38@gmail.comNurhayatinurhayatiusman2996@gmail.comM. Henityo Agung As'adiagungasadi28@gmail.com<p>Latar belakang: Daun murbei (Morus alba L.) mengandung metabolit sekunder<br />yang berpotensi sebagai senyawa bioaktif, tetapi profilnya dapat dipengaruhi oleh<br />jenis pelarut ekstraksi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan membandingkan profil<br />metabolit sekunder ekstrak etanol dan metanol daun murbei serta mengidentifikasi<br />senyawanya menggunakan metode LC-MS/MS. Metode: Penelitian dilakukan<br />secara eksperimental dengan pendekatan deskriptif. Ekstraksi simplisia dilakukan<br />melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dan metanol, kemudian<br />dianalisis melalui skrining fitokimia dan LC-MS/MS. Hasil: Kedua ekstrak<br />mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin, sedangkan steroid dan<br />terpenoid hanya terdeteksi pada ekstrak metanol. LC-MS/MS mengidentifikasi 44<br />senyawa pada ekstrak etanol dan 75 senyawa pada ekstrak metanol. Golongan<br />dominan adalah asam amino dan peptida, diikuti alkaloid. Simpulan dan saran:<br />Pelarut ekstraksi mempengaruhi jumlah dan variasi metabolit sekunder. Metanol<br />lebih efektif mengekstraksi senyawa polar hingga semi-polar. Penelitian lanjutan<br />perlu menguji aktivitas biologis senyawa teridentifikasi.</p>2026-07-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6869Persepsi dan Pengalaman Pekerja terhadap Risiko Kerja pada Aktivitas Sumi Tori di Industri Makanan Beku Jepang2026-06-14T12:37:50+00:00Andi Fita Jumrianiandifita2003@gmail.comMuhammad Sabri Syahrirsabrisyahrir@untad.ac.idUmmu KamilahUmmu.kamilah@untad.ac.idStefiani Bengan Labastefiani.bengan.l@mail.ugm.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi dan pengalaman pekerja terkait<br />risiko ergonomi dan keselamatan kerja dalam aktivitas Sumi Tori di industri<br />makanan beku Jepang guna mengidentifikasi faktor risiko cedera kerja. Penelitian<br />menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data<br />dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 7 pekerja yang secara rutin<br />menggunakan Sumi Tori dalam aktivitas produksi. Data dianalisis secara kualitatif<br />melalui identifikasi tema-tema utama terkait ergonomi, keluhan fisik, risiko cedera,<br />dan keselamatan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Sumi Tori<br />masih menimbulkan berbagai permasalahan ergonomi dan risiko kerja. Meskipun<br />alat memiliki bobot ringan dan mudah digerakkan, mayoritas pekerja menilai alat<br />belum sepenuhnya ergonomis karena permukaan yang licin dan tidak adanya<br />pegangan khusus sehingga kontrol alat kurang stabil. Kondisi tersebut<br />menyebabkan pekerja harus menggenggam alat lebih kuat dan menimbulkan<br />kelelahan pada tangan, jari, serta pergelangan tangan. Paparan suhu rendah dari<br />produk makanan beku juga menyebabkan keluhan fisik seperti pegal, keram, nyeri<br />otot, kesemutan, dan rasa kaku pada tangan maupun lengan. Selain itu, beberapa<br />pekerja pernah mengalami luka ringan akibat alat terpental atau gesekan dengan<br />produk beku. Penelitian ini juga menemukan bahwa pelatihan formal terkait<br />penggunaan alat masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan modifikasi desain alat,<br />pelatihan ergonomi dan keselamatan kerja, serta pemantauan rutin terhadap kondisi<br />alat dan keluhan pekerja guna meningkatkan kenyamanan, keselamatan, dan<br />produktivitas kerja.</p>2026-07-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/6557Autentikasi Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lam.) pada Produk Herbal Komersial Menggunakan Metode KLT dan HPLC2026-05-05T11:17:32+00:00Zunita P. Sarizunita.puspitasari@iik.ac.idShania C. Putrizunita.puspitasari@iik.ac.idFita Sarizunita.puspitasari@iik.ac.idDyah Aryantinizunita.puspitasari@iik.ac.id<p>Latar Belakang: Autentikasi bahan herbal dalam produk komersial merupakan<br />langkah kritis untuk menjamin kualitas, keamanan, dan efektivitas produk,<br />terutama pada produk tanpa label yang jelas di mana informasi komposisi dan<br />standar mutu tidak tersedia bagi konsumen Tujuan: Penelitian ini bertujuan<br />mengautentikasi kandungan jati belanda (Guazuma ulmifolia Lam.) dalam produk<br />herbal komersial menggunakan pendekatan chromatographic fingerprint.<br />Metode: Tiga sampel produk komersial (S1, S2, S3) dianalisis menggunakan<br />Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC),<br />kemudian dibandingkan terhadap bahan baku autentik sebagai acuan. Hasil: KLT<br />menunjukkan S1 memiliki pola noda paling mendekati bahan baku, S2<br />memperlihatkan kemiripan umum dengan satu noda dominan tambahan,<br />sedangkan S3 berbeda signifikan dari segi jumlah dan distribusi noda. HPLC<br />mengonfirmasi temuan ini secara konsisten — S1 memiliki pola kromatogram<br />serupa pada waktu retensi 2–3 menit, S2 menunjukkan kemiripan parsial disertai<br />puncak tambahan dan variasi intensitas, sementara S3 menampilkan profil berbeda<br />secara mendasar dengan puncak dominan pada waktu retensi 9–10 menit yang<br />tidak ditemukan pada bahan autentik. Simpulan: Kombinasi KLT dan HPLC<br />terbukti efektif sebagai strategi autentikasi bahan herbal, dengan KLT sebagai<br />skrining awal dan HPLC sebagai konfirmasi beresolusi tinggi. Diperlukan<br />pengawasan mutu yang lebih ketat terhadap produk herbal tanpa label serta<br />penelitian lanjutan menggunakan LC-MS atau NMR untuk identifikasi senyawa<br />secara definitif.</p>2026-07-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/7159Profil Metabolit Ekstrak Air Daun Ndusuk (Melastoma Malabathricum L.) Asal Lelogama Nusa Tenggara Timur2026-07-14T15:59:29+00:00Chantika Meilany Adoechantikaadoe@gmail.comMuhajirin Deanmuhajirin.dean@staf.undana.ac.id<p>Latar Belakang: Praktik kearifan lokal hidangan Ute Saung Ndusuk mempercayai<br />pengolahan daging bersama daun Ndusuk yang dikenal sebagai tanaman penurun<br />lemak daging, namun landasan ilmiahnya belum dieksplorasi. Tujuan: Penelitian<br />ini bertujuan memprofilkan perubahan komponen metabolit sekunder akibat<br />perebusan antara daun Ndusuk (Melastoma malabathricum L.) dan matriks hewani.<br />Metode: Ekstrak diperoleh melalui metode perebusan berbasis air untuk kelompok<br />kontrol (daun tunggal) dan sampel (daun bersama daging iga sapi). Profil metabolit<br />dianalisis menggunakan instrumen Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GCMS). Hasil: Perebusan memicu perubahan senyawa dari 125 senyawa pada kontrol<br />menjadi 184 senyawa pada sampel. Terjadi pergeseran dominasi komponen dari<br />golongan furan menuju fraksi asam lemak. Proses pengolahan bersama ini<br />menghasilkan senyawa eksklusif baru berupa penanda lipid hewani serta<br />antioksidan fenolik (pyrogallol dan benzofuran) hasil hidrolisis tanin daun.<br />Simpulan: Perebusan bersama memicu pembentukan kompleks fenolik-lipid<br />interfasial yang bertindak sebagai perisai antioksidan alami untuk memelihara<br />stabilitas fisikokimia dan menghambat oksidasi lemak daging. Saran: Penelitian<br />selanjutnya perlu melakukan uji bioaktivitas lanjutan secara in vivo untuk<br />mengevaluasi efikasi kardioprotektif dari sediaan ekstrak terproses ini.</p>2026-07-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sainshttps://journal.unugiri.ac.id/index.php/faskes/article/view/7157Karakterisasi Simplisia dan Standarisasi Ekstrak Air Daun Ndusuk (Melastoma malabathricum L.)2026-07-16T04:34:43+00:00Alya Khairunnisaalyakhairunnisa71@gmail.comMuhajirin Denamuhajirin.dean@staf.undana.ac.id<p><strong>Latar Belakang</strong>: Daun Ndusuk (<em>Melastoma malabathricum</em> L.) berpotensi sebagai bahan baku obat tradisional, namun pengembangannya memerlukan data karakterisasi simplisia dan standardisasi ekstrak air untuk menjamin mutu. <strong>Tujuan:</strong> Mengarakterisasi simplisia dan menstandardisasi ekstrak air daun Ndusuk dengan karakterisasi dilakukan secara makroskopis-mikroskopis serta standarisasi meliputi parameter spesifik maupun nonspesifik. <strong>Metode:</strong> Ekstrak diperoleh melalui metode infusa menggunakan air pada suhu 90°C selama 15 menit dengan pengujian menggunakan spektrofotometri UV-Vis. <strong>Hasil:</strong> Simplisia memiliki fragmen pengenal berupa trikomata, stomata, berkas pengangkut berkristal kalsium oksalat roset, dan sklerenkim. Rendemen ekstrak sebesar 13,49%, berwarna cokelat kehitaman, bau aromatik, dan rasa pahit. Kadar sari larut air 67,26±1,07%, kadar sari larut etanol 14,06±1,29%, dan kadar kuersetin 9,61 mg/g. Susut pengeringan 4,44±0,26%, kadar air 6,72±0,27%, kadar abu total 9,11±0,07%, kadar abu tidak larut asam 0,06±0,09%, bobot jenis 0,975±0,01, cemaran mikroba ALT 4,75×10⁴ CFU/mL, kadmium 0,06 mg/kg, dan timbal 0,51 mg/kg. <strong>Kesimpulan:</strong> Seluruh parameter memenuhi persyaratan mutu. <strong>Saran:</strong> Mengkaji aktivitas biologis ekstrak air daun Ndusuk untuk melengkapi data karakterisasi dan standarisasi yang telah diperoleh.</p>2026-07-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sains