Status Gizi Remaja Berdasarkan Frekuensi Sarapan Pagi di Sangihe: Studi Cross-Sectional

Main Article Content

Astri Mahihody

Abstract

Latar belakang: Kebiasaan jarang sarapan yang berlangsung dalam jangka panjang berpotensi mengganggu status gizi siswa. Ketiadaan asupan energi di pagi hari dapat memicu defisiensi nutrisi makro yang berujung pada penurunan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) hingga status gizi. Tujuan: menganalisis hubungan antara frekuensi sarapan terhadap status gizi siswa di SMA N 1 Manganitu. Metode: Penelitian ini merupakan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa SMA N 1 Manganitu yang berjumlah 131 orang. Pengambilan sampel menerapkan teknik total sampling. Sampel berjumlah 88 yang memenuhi kriteria inklusi. Data status gizi dikumpulkan melalui pengukuran IMT/U dan frekuensi sarapan dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Gamma Sommers. Hasil: Nilai koefisien korelasi (r/d) sebesar 0,071 dengan nilai signifikansi (p) yaitu sebesar 0,593 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan linier yang signifikan secara statistik antara frekuensi sarapan dengan status gizi yang kekuatan hubungannya tergolong sangat lemah. Simpulan dan saran: Rutinitas sarapan berperan protektif terhadap status gizi optimal, walaupun korelasi linier antara ketidakteraturan sarapan dan status gizi tidak terbukti signifikan secara statistik. Sekolah bersama Puskesmas hendaknya menerapkan edukasi berbasis pemenuhan gizi seimbang dan pembatasan asupan kalori secara menyeluruh. Selain itu, fenomena beban gizi ganda mengharuskan adanya pembenahan terhadap lingkungan belajar.

Article Details

Section
Articles

References

Latar belakang: Kebiasaan jarang sarapan yang berlangsung dalam jangka panjang berpotensi mengganggu status gizi siswa. Ketiadaan asupan energi di pagi hari dapat memicu defisiensi nutrisi makro yang berujung pada penurunan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) hingga status gizi. Tujuan: menganalisis hubungan antara frekuensi sarapan terhadap status gizi siswa di SMA N 1 Manganitu. Metode: Penelitian ini merupakan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa SMA N 1 Manganitu yang berjumlah 131 orang. Pengambilan sampel menerapkan teknik total sampling. Sampel berjumlah 88 yang memenuhi kriteria inklusi. Data status gizi dikumpulkan melalui pengukuran IMT/U dan frekuensi sarapan dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Gamma Sommers. Hasil: Nilai koefisien korelasi (r/d) sebesar 0,071 dengan nilai signifikansi (p) yaitu sebesar 0,593 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan linier yang signifikan secara statistik antara frekuensi sarapan dengan status gizi yang kekuatan hubungannya tergolong sangat lemah. Simpulan dan saran: Rutinitas sarapan berperan protektif terhadap status gizi optimal, walaupun korelasi linier antara ketidakteraturan sarapan dan status gizi tidak terbukti signifikan secara statistik. Sekolah bersama Puskesmas hendaknya menerapkan edukasi berbasis pemenuhan gizi seimbang dan pembatasan asupan kalori secara menyeluruh. Selain itu, fenomena beban gizi ganda mengharuskan adanya pembenahan terhadap lingkungan belajar.